Perempuan di Tepi Jalan

perempuan di tepi jalan

Perempuan di tepi jalan

Apa yang digumamkan?

Jampi-jampi pemikat pelanggan atau keluh kesah tunggakan cicilan

Perempuan di tepi jalan

Apa yang dilamunkan?

Gugup menerawang masa depan atau takut menyulam masa silam

Perempuan di tepi jalan

Apa yang dilakukan?

Menabur senyuman atau mengubur penderitaan

Perempuan di tepi jalan

Hujan telah datang

cepat-cepat kau pulang

sebelum malam memelukmu

dan subuh menelanjangimu

    Bungurasih, Oktober 2018

Lampu Merah

anak-jalanan

Anak-anak jalan sibuk merangkai senja

Di persimpangan kantuk dan jagamu

pengendara berlumuran debu lalulintas waktu

Deru knalpot suara kebisingan

Mimpi yang mereka ikat di bahu jalan berceceran

.

Anak-anak jalan sibuk merangkai senja

Sementara jarum jam berseru

menggetarkan lambung dan kerongkongan

.

Malam mulai berhamburan dari ketiak penjaga restoran

.

Anak-anak jalan lalu lalang

mengendarai batuk-batuk dari supir truk

tenggelam dalam keriuhan

 

 

Pandaan, 2016

Di Luar Jendela

India Kashmir Fighting

Kabut pagi menyusun nyawa kami

Dan di luar jendela masih sama

darah menodai

langit kami yang murni

Burung gagak berkeliling di atap kota

menghitung kematian tiap mangsanya

Dan di luar jendela masih sama

kokok ayam berganti letusan senapan

teriakan perut kelaparan

Lalat-lalat yang ribut

berebut santapan kematian

Dan di luar jendela masih sama

aku melihat seorang bocah memegang perut

meraba-raba hidup

Dan di luar jendela

ia tertawa

meregang nyawa

Solo, Januari 2017

Cerita Pendek : Kertas Pemilu

326039_01005626062014_surat_suara

Hari pemilihan umum sebentar lagi tiba. Panitia penyelenggara pemilihan umum bingung, stok kertas negara habis. Lantas, ketua pantia segera memerintahkan anggotanya untuk mencari pohon sebagai bahan baku pembuatan kertas ke seluruh penjuru negeri. Maka, bergeraklah anggota-anggota itu mencari pohon tersebut. Mereka tidak menemukan sebatang pohon pun karena sudah habis ditebangi dan menyisakan lahan kering yang luas. Para anggota kembali dan melapor pada ketua panitia.

“Apa-apaan kalian ini, mencari pohon saja tak bisa,” bentak ketua panitia.

“Maaf pak, pohon dan hutan habis semua,” jawab anggota.

“Saya tak mau tahu, pokoknya kalian harus menemukan pohon-pohon itu!” perintah ketua.

“Baik, pak.”

Seorang anggota akhirnya menemukan seorang informan dari sebuah desa di pelosok negeri yang tak tejangkau oleh pemerintah, baik dalam hal pembangunan infrastruktur, kesejahteraan dan kesehatan. Informan ini menjual informasi tentang keberadaan hutan dan pohon yang masih tersisa di desa itu. Tanpa menghabiskan banyak waktu, para anggota segera menyiapkan alat berat, dokumen-dokumen dan segala keperluan. Setelah selesai semua persiapan, mereka segera meluncur ke desa tersebut.

Mereka benar-benar takjub dengan suasana desa yang masih sangat alami. Langit biru terbentang luas di cakrawala, pegunungan hijau mengelilingi lembah yang subur. Sekumpulan sapi dan domba sedang digembalakan di kaki bukit, beberapa kelompok orang terlihat membajak tanah dengan peralatan yang masih tradisional. Pohon-pohon berderet sepanjang sungai, daunnya yang rimbun bercahaya seperti logam tertimpa sinar matahari yang terang. Udara sejuk terasa segar. Suasana terasa damai dan tenang.

Vegetasi alam hutan itu masih terjaga dengan baik. Bebagai jenis pohon dapat ditemui seperti; jati, pinus, kerangas, meranti dan lainnya terhampar di hadapan. Pohon-pohon di hutan itu berusia tua, jika dilihat dari batang pohonnya yang memiliki diameter cukup besar. Mereka tumbuh memanjang ke atas dengan dedaunan yang rimbun dan menyegarkan. Suara beberapa satwa liar seperti kera masih nyaring terdengar.

Para anggota segera mengatur dan mempersiapkan segala keperluan mereka. Mereka mendirikan tenda-tenda di lahan kosong hutan itu dan menyiapkan peralatan penebangan dan alat beratnya. Selain itu, mereka membawa polisi juga untuk mengawal kegiatan ini. Setelah gergaji mesin dan semua alat berat telah diisi bahan bakar, segera mereka akan melakukan penebangan. Tiba-tiba warga desa yang mendengar keributan ini segera keluar dan menghadang mereka.

“Apa yang akan kalian lakukan?” kata salah seorang warga.

“Tenang, kami akan melakukan penebangan pohon di hutan ini. Kami sudah mengantongi izin dari pemerintah pusat,” salah seorang petugas memberi penjelasan.

“Ini tanah kami, pohon kami, jangan berlaku seenaknya sendiri,” bantah warga.

“Kalian akan dapat ganti rugi atas pohon-pohon ini.”

“Ini adalah sumber kehidupan kami, jangan kalian berlaku macam-macam,” ancam warga.

“Minggir, jangan suka mencampuri urusan kami,” seru petugas itu. Petugas itu memberi perintah kepada polisi untuk menyingkirkan dan mengamankan warga yang sudah mulai mengamuk.

Warga desa yang lemah dan tak bisa apa-apa hanya bisa menyaksikan pohon-pohon itu ditebangi. Pohon-pohon itu dirobohkan sampai ke akar-akarnya, ditebang satu persatu-satu sampai hutan itu habis tak menyisakkan satu pohon pun. Banyak satwa yang melarikan diri dan ada juga yang dibunuh secara kejam. Semua pohon akhirnya selesai ditebang kecuali satu pohon keramat yang terletak di jantung desa tersebut. Seorang anggota berniat akan menebang pohon itu tapi mengetahui pohon keramat, dia menelepon ketua panitia terlebih dahulu.

“Halo pak, semua pohon sudah habis ditebang,” kata petugas.

“Kerja bagus,” jawab ketua dengan puas.

“Tapi masih ada satu pohon pak, pohon ini..” kalimatnya belum selesai tetapi sudah dipotong.

“Saya tak mau tahu, pokoknya tebang semua pohon tanpa terkecuali,” perintah ketua.

Klik, suara telepon ditutup dari seberang. Setelah mendapat keyakinan si anggota memerintahkan untuk segera melakukan penebangan terhadap pohon keramat itu. Mereka tidak peduli dengan protes warga.Warga desa hanya bisa menangis dan berdoa menyaksikan satu-satunya pohon yang telah memberikan perlindungan dan berkah itu ditebang. Dalam hati, warga mengutuk perbuatan mereka yang seenaknya sendiri.

Batang-batang pohon dikumpulkan kemudian diangkut ke truk semi trailer. Mereka melanjutkan perjalanan menuju pabrik kertas. Di sana, batang-batang pohon dikupas kulitnya dan dipotong menjadi ukuran lebih kecil, kemudian dimasukkan ke dalam tangki raksasa yang disebut sebagai pencerna. Proses di tangki ini akan menghasilkan bubur kertas. Setelah keluar dari pencerna, bubur kertas dicampur dengan air dan dibentangkan di atas sebuah ayakan bergerak yang disebut kawat. Kemudian, terdapat gilingan-gilingan dan silinder yang dipanaskan dari dalam yang menekan bubur kertas ke kawat dan mengeluarkan air dari kertas tersebut. Penggulung akan mengumpulkan kertas menjadi gulungan raksasa. Kertas yang dihasilkan akan dipotong-potong dan dicetak menjadi surat suara. Namun ada keanehan pada salah satu pohon, kertas yang dihasilkan hanya cukup untuk mencetak satu lembar kertas suara saja. Para anggota yang mengetahui hal ini tak mempedulikan masalah tersebut, karena hari pemilu sudah semakin dekat.

Kertas-kertas itu kemudian dicetak menjadi surat suara, dimana ada dua foto pasangan bakal calon pemimpin tampak di atasnya. Pasangan urut nomor satu, mengambil latar belakang foto di depan sebuah hotel mewah dengan memakai kemeja dan peci berwarna putih. Semua serba putih bersih. Wajah mereka berseri-seri mengulas senyum yang menawan. Visi dan misi mereka ingin menjadikan negara ini banyak dikunjungi wisatawan mancanegara karena dapat menambah devisa negara. Pasangan urut nomor dua mengambil latar belakang foto di depan sebuah pabrik. Mereka mengenakan seragam ala buruh berwarna biru muda dengan sedikit kotoran di bagian pundaknya. Di kepalanya ada helm proyek berwarna kuning dan membawa kunci pas dan obeng. Mereka ingin menjadikan negara ini sebagai negara industri nomor satu di dunia. Tak lupa, mereka memasang senyum yang tak kalah indah dari pasangan urut nomor satu.

Akhirnya tibalah hari pemilihan itu, serentak di seluruh negara. Di setiap wilayah dibangun tempat pemungutan suara. Bilik-bilik dan kotak penyimpanan suara telah disiapkan. Tibalah saat itu seorang pemuda, yang baru saja memperoleh hak pilihnya pergi menuju ke tempat pemungutan suara yang tak jauh dari rumahnya. Pagi itu suasana belum begitu ramai. Dia menyerahkan surat undangan ke petugas lalu mengantri. Selama menunggu giliran, dia duduk di kursi panjang yang disediakan untuk para pemilih, nantinya petugas akan memanggil nama pemilih tersebut. Tak lama, petugas memanggil nama pemuda itu dan memberikan surat suara kepadanya.

“Baru pertama kali nyoblos ya?” tanya petugas itu.

“Iya pak,” pemuda itu mengangguk.

“Coblos berkali-kali boleh, tetapi jika menyoblos di luar frame foto tidak sah, boleh mencoblos di nomor, tetapi lebih baik coblos di gambarnya saja biar memudahkan panitia saat perhitungan nanti,” kata petugas menasehati.

“Baik pak.”

Pemuda itu kemudian membuka lembar surat suara di hadapan petugas guna menghindari surat suara yang rusak atau sudah tercoblos. Namun ada perasaan aneh ketika ia membuka lembaran surat itu, mungkin perasaannya gugup karena baru pertama kali dirinya melakukan pemilihan.

Setelah memperoleh surat suara, dia menuju ke bilik untuk melakukan penyoblosan. Dia membuka surat suara itu, ada hal aneh yang terjadi. Tiba-tiba layar kertas itu menampilkan adegan yang mengerikan. Kekacuan terjadi dimana-mana. Banjir, tanah longsor, gempa bumi dan gunung meletus memakan korban ribuan jiwa. Wabah penyakit malaria, demam berdarah, flu burung menjangkit di berbagai wilayah. Pejabat-pejabat saling tertawa dan berpesta pora di atas punggung rakyatnya. Pembunuhan dan penjarahan merajalela. Keadilan dirobohkan kebohongan ditegakkan. Pemuda itu ketakutan menyaksikan peristiwa ini. Akhirnya dia mencoblos semua wajah calon pemimpin itu. Pasangan urut nomor satu, dia coblos tepat di mata dan jantung. Pasangan nomer urut dua, dia coblos di bagian perut sebelah kanan dan hidungnya. Pemuda itu dengan tergesa-gesa melipat surat suara dan memasukannya ke kotak suara kemudian berlari ketakutan pulang ke rumah tanpa mencelupkan jarinya ke tinta biru. Para petugas kelihatan bingung menyaksikan peristiwa ini. Di waktu yang sama di lain tempat, ada kejadian yang menggemparkan. Seluruh pasangan calon pemimpin itu semuanya tewas dengan kondisi seperti surat suara yang dicoblos si pemuda tadi.

SELESAI

Tangisan Lamia

Jangan Pernah Kau Buat Wanita Menangis

Lamia menari di ambang batas mimpi

Angin menerbangkan kakinya yang ringan

Terbang perlahan, di kehampaan ia terbenam

Harum anggur semerbak berlalu di peraduan

 

Seribu langkah cahaya lalu

bersembunyi di ujung sunyi

Seribu langkah cahaya berlalu

bintang-bintang kehabisan pendarnya

 

Dalam senyap yang gelap

Lamia mendekap langkah kakinya yang berderap

Kunang-kunang hinggap dan menangis di matanya

 

Keheningan memagut tubuhnya seluruh

di luar jendela bayangan bulan mendesah memanggil namanya

Ada pula ruh-ruh malam yang meniupkan prasangka

Sebuah derita berjatuhan mengutuki hidupnya

 

Oh, Lamia! Bintang senja, merayu manja!

Jiwamu terganti oleh perak dan anggur

Kebebasanmu berkabut kabur

Cahaya yang merekah memerah darah

Memperingatkan kepedihan demi kepedihan

 

Karena sebuah kata-kata yang tiada

Telah menghamba pada siapa

Pada jiwamu yang tak berpunya, ia meghendakinya

 

Langit menggugurkan bunga-bunga

Di balik jendela ia terpesona

Angin menerbangkan kakinya yang ringan

Terbang perlahan, di kehampaan ia terbenam

 

 

Pandaan, 2016

Sion

DarkNight2
http://www.hqpixs.blogspot.com

Sion meramu malam dan gulita

dalam seribu makna

Sion, tenggelam tenggelamlah

Malam akan mengasingkan tubuhmu dari derita

Sion melelehkan diri dalam pijar matahari

Sion, tenggelam tenggelamlah

Darahmu menjadi persembahan dalam ritus yang agung

mengisi tengkuk dan mangkuk para iblis

Sion, tenggelam tenggelamlah

Menyatulah dengan arwah duka

yang mengabur di persimpangan malam dan gulita

di antara sunyi dan tapal besi

Sion berkata

Cambuklah aku dengan segenggam dosa

yang kau rampas dari langit tujuh rupa

Dengarlah para ksatria, langit malam akan membatu

begitu juga dengan tubuhmu.

 

 

Selembar Rindu

Suara derit kipas angin yang menoleh ke kanan ke kiri belum cukup rasanya mengusir kegerahanku siang itu. Padahal, jendela kamar semuanya sudah kubuka lebar-lebar. Sebenarnya cuaca tidak terlalu panas-panas amat, hanya hatiku saja yang gerah karena baru ditimpa masalah; kekasihku minggat.
Hidupku menjadi berantakan. Kuliahku terbengkalai, ayah dan ibuku dan adik-adikku lama tidak aku jumpai. Aku berpikir sembari menatap langit-langit kamar pondokanku. Aku harus menata kembali hidupku. Besok aku kembali masuk ruang kuliah, dan di akhir pekan aku akan sempatkan menjumpai keluargaku di rumah. Nah, sekarang malam Minggu , tak ada salahnya pergi keluar, ada bagusnya ke toko buku atau pergi menonton film.
Suara decak cicak kawin tiba-tiba mengejutkanku, seperti adegan iklan yang memotong secara kurang ajar sebuah video di youtube. Terbayang di otakku suara desah ah dan suara lenguh uh mirip adegan film bokep Jepang yang kutonton kemarin malam. Cicak jantan dengan rakus melahap satu persatu onderdil kewanitaan dari cicak betina. Dan puncaknya, mereka merengkuh puncak kenikmatan bersama.
Aku tersenyum dan menghentikan imajinasi liarku, memacu motorku, keluar dari rumah pondakanku yang sudah sepi.
Jalanan kota Solo diselimuti debu setelah berhari-hari tidak diguyur hujan. Pepohonan yang ditanam pemkot di pinggir jalan Slamet Riyadi belum cukup menghadirkan kesejukan. Apalagi sekarang banyak bermunculan hotel-hotel mewah yang semakin menambah sumpek kota Solo. Keringat mulai membuat parfumku terasa sia-sia. Kupacu motorku lebih kencang agar angin sedikit menguapkan keringatku.
▪▪▪
Aku masuk dan angin dingin segar dari air conditioner menerpa tubuhku, membebaskanku dari gerah yang menyiksaku. Kulihat sekeliling, seperti biasa toko buku selalu sepi. Buku-buku tulis ditumpuk tinggi berjejeran seperti gedung bertingkat. Sepertinya ada diskon besar-besaran hari ini. Kualihkan pandanganku, kutemukan sesosok tubuh tegap seorang lelaki yang aku tak asing lagi. Kudekati perlahan, setelah yakin kuberanikan menyebut namanya.
“Hendri, kaukah itu?”
“Ya, ” dia menengok. “Boy, iya kamu Boy kan? Mahasiswa bangkotan yang tak kunjung lulus. Hahaha, ” dia tertawa mengejekku.
Aku hanya tersenyum kecut. Walaupun dia lebih muda dariku, tapi dia lulus lebih cepat dariku. Kami adalah dua sahabat karib dulu, ketika ia masih duduk bersamaku di bangku kuliah. Sekarang dia kelihatan bersih dan rapi.
“Apa kabarmu, kerja dimana kau sekarang?” pertanyaan klise yang diajukan seseorang apabila lama tak ketemu.
“Kabarku baik, aku sekarang mengurusi bisnis kafe dan perusahaan alat berat dari ayahku” katanya sedikit membanggakan diri.
“Lalu, apa yang kau lakukan di sini, bukannya kau tak suka baca buku?”
Dia kelihatan gugup, “Aku mencari buku tentang bisnis dan ekonomi untuk membantu pekerjaanku, hehehe.” Terlihat dari tawanya ada sesuatu yang disembunyikan.
“Lalu, kenapa yang kau pegang itu malah buku puisinya Aan Mansyur?” tanyaku penuh ingin tahu.
“Ah, ini tadi Cuma lihat-lihat saja. Lalu bagaimana kabarmu kawan?” ia mencoba mengalihkan perhatian.
“Yeah, kau tahu Klara, kekasih tercantik dan memiliki senyum yang membuatku tak bisa tidur selama tujuh hari tujuh malam, dia minggat dariku. Aku masih ingat kata-kata terakhirnya di telepon, “Oke, hubungan kita cukup sampai di sini saja. Kau tahu, kau selalu sibuk dengan duniamu sendiri. Selamat tinggal, terima kasih!”
Hendri menepuk bahuku pelan, “Sudahlah Boy, yang lalu biarlah berlalu. Masih banyak cewek di luar sana yang mengantri buatmu. Lupakan sajalah dia.”
Aku mengangguk pelan.
“Boy, sepertinya cukup sampai di sini percakapan kita. Ada urusan di kantor yang belum terselesaikan,” melihat arloji dan dia pamit.
Aku mulai termenung-menung memikirkan Klara. Kerinduanku padanya muncul, mungkin dia belum punya kekasih baru. Dan kita mungkin bisa kembali seperti dulu. Hal ini membuatku tersadar kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya. Aku ingat dia sangat suka sekali dengan puisi-puisiku dulu yang dimuat koran Mingu pagi. Aku mengambil kertas dari tas punggungku dan menulis puisi untuknya.
Gagasan ini membuatku semangat kembali, aku masih punya harapan. Kuambil ponsel bututku dan kucari nomor telepon Klara dalam daftar kontakku. Syukur, belum kuhapus. Maka kuhubungi Klara.
“Hallo?”
“Hallo … Klara?”
“Iya. Siapa?”
Sial, dia sudah menghapus nomorku dari kontaknya.
“Kau lupa suaraku?”
“Ya Tuhan. Kaukah itu Boy? Apa kabar, Sayang? Kau masih di Solo? Gimana kuliahmu? Sudah lulus?”
Aku tersenyum mendengarnya suaranya yang renyah membius. Jantungku berdegup kencang oleh sambutannya yang hangat.
“Aku baik-baik saja.”
“Tidak diculik?” tanyanya lagi.
“Tak ada penculik yang bersusah payah menculik pemuda gembel macam aku.”
“Hehehe, syukurlah. Lalu apa sekarang kesibukanmu?”
“Yeah, beginilah, ” kataku, dengan nada gugup. “Luntang-luntung sendirian, tak ada teman … ”
“Kemarilah Boy, kebetulan aku baru sampai di kafe baru di kawasan jalan Doktor Radjiman.”
“Pucuk dicinta ulam pun tiba!” seruku dalam hati.
“Kau tahu tempatnya kan?”
“Tahu, baiklah, aku segera ke sana.”
▪▪▪
Kutelusuri jalanan yang mulai gelap dan ramai sambil kunyanyikan lagu “When You Love Someone” nya Endah N Rhesa. Suasana romantis kubangun agar waktu ketemu Klara aku tidak terlihat gugup.
Tak terlalu sulit untuk menemukan kafe itu. Dalam sepuluh menit, aku sudah sampai di depan kafe. Bau harum cappucino menyambut kedatanganku, sementara di kanan dekat pintu masuk kulihat empat wanita mengobrol sambil menyantap makanan mereka. Kuedarkanan pandanganku mencari Klara, dia duduk di sudut kafe diterangi temaram lampu gantung di atasnya.
“Hallo, Klara.”
“Halo juga Boy, tak ada Intel yang mengikutimu sampai kemari kan?” tanya dia.
Aku nyengir sambill duduk di kursi yang ada di depannya.
Ia duduk di seberang meja, ada buku puisi karangan Aan Mansyur di atasnya. Dengan malu-malu kutatap dirinya. Ia masih cantik seperti dulu, walaupun ada perubahan di sana-sini. Dulu rambutnya panjang melewati bahu, sekarang ia memotong pendek. Tanpa bisa kucegah, mulutku berkata:
“Kau tambah cantik Klara, selamat ulang tahun ya!”
Ia menoleh kepadaku, dia tersenyum dan ada rona merah di pipinya. Tapi matanya tak memancarkan citra gadis malu-malu dan polos, seperti dulu waktu pertama kali kurayu. Matanya melotot gemas. Katanya:
“Dasar playboy cap kerupuk udang!”
Aku cuma tertawa.
Obrolan kami berjalan lancar. Kami berbicara banyak hal, tentang kegiatan kami sehari-hari, acara TV yang tak mendidik, politik negara bahkan sampai dengan merk sabun yang kami pakai. Tak terasa sore beranjak malam.
“Mana hadiah buatku?”
“Hampir aku lupa,” kuserahkan lipatan kertas yang sudah kutulis puisi untuknya. “Ini aku tulis sewaktu mampir di toko buku tadi. Bacanya nanti saja sewaktu aku gak ada.”
“Oke, terima kasih Boy! Sepertinya aku harus pergi sekarang, ada urusan di rumah yang harus diselesaikan. Tenang saja, biar aku yang traktir, ini kan hari ulang tahunku, hehehe!”
Kami melangkah bersama menuju kasir, Klara membuka dompetnya hendak membayar, tiba-tiba ada sesuatu yang jatuh dari dompetnya. Aku pungut benda itu, sebuah kertas, bukan, sebuah foto. Kulihat di foto itu Klara mengenakan kebaya indah ala pengantin Jawa. Dia terlihat sangat anggun dan mempesona. Dan di sampingnya, memakai pakaian pengantin pria, kutemukan sesosok tubuh tegap seorang lelaki yang aku tak asing lagi. Dialah Hendri sahabat karibku sewaktu kuliah dulu.

                                                  2016
             Inspirasi: Eka Kurniawan

Duka Lama

Nada-nada bergerak mengitari tubuhmu
Memalu not balok di tengkuk dan bibirmu
Tiap syair dan irama
mengisyaratkan luka

Kau bersembunyi di balik bilik ketakutanmu
Dunia seakan terbalik
langit runtuh di akhir senjakala
Duka yang kau simpan rapat dalam toples kaca

Aku mencoba mengeja-mu sekali lagi
bersamaan tembang yang terbang di awang-awang

Menjadi duka menjadi duka..

IFAH

Darah mewangi
mewarnai kelambu di puncak batas waktu
Air menetes dari atap mata menetaskan sunyi doa
Aku memanjat bilik-bilik rahim
menumpahkan tangis di pelataran altarmu

Aku menyaksikan wajahmu, terbentang samudera menampung segala air mata
Aku mendengar nyanyianmu, mewiru degup jantungku

Ketika langit menampakkan suarnya
Dan kabut masih tersisa enggan dijemput
Kau kalungkan doa yang disulam tadi malam
Menanggalkan ketakutanku, meninggalkan keberanianmu

Aku adalah buah yang kau pungut bersamaan daun jatuh
memagut diriku seluruh
Akulah anak pertama yang menangis dalam pangkuanmu
Berenang dalam encer susumu

Engkau wanita yang kupanggil dan kupanggul dalam doaku: Ibu.